Dari Chronos

August 24, 2008

Dari chronos yang mengulang kembali sebuah tema usang
Harakiri pengundang hujan namun tanpa kesejukan
Prosa hanya artikel dari koran bekas
Berpijak di semen yang tak kunjung mengeras
Jenuh,
Pasang wajah tanpa paras
Insipirasi beralas kotoran, larva serta ampas
Jelas bukan pertama yang naik ke tingkat atas
Belas adalah iblis dari penglihatan sepintas
Air mata jadi magma, tumbuh tanpa kata
Hanya dendam yang memberi makan dengan amarah
Dan bintang,
Yang tertawa sekeras gelegar petir
Yang menukar posisi saat masih ada martir
Pola berakhir,
Hanya,
Satu yang tergelincir
Hanya, Mata jadi saksi bahwa tak lancar mengalir
Siapa yang bergerak dengan aingin di telunjuk?
Di edisi ini hati berganti dan menusuk

Siapa sangka?

August 21, 2008

Berserak lantai ini dengan dusta

Berpegang pada busur mainan "harap"

Siapa sangka hari kembali berucap "kau pendusta berhasrat"

Yah…

Dalam kekosongan aku berbicara pada hampa 

Yah…

Aku telah kalah 

 

Darah dan magma

May 6, 2008

Dari sini

Sejarah menuntun kita untuk beradu pandang

Membawakan ultimatum berdarah

Menegaskan sebuah mata semerah api

Seputih belati

Menusuk hingga inti magma paling dalam

Dan disini,

Sebuah kenangan teruji

Saat sepintas yang lalu datang tuk memberi

Lebih dari ini!!!

Aku bukan putra darah

Juga bukan lahir dari magma

Dan sejarah

Memaksa untuk menerima pengulangan

dari titik nanah yang tersenyum

Agar dapat memberi waktu untuk berbaur

dengan sesuatu yang kabur

Aku bukan putra magma

Namun aku lahir dari darah 

For D’past That I’ve

April 1, 2008

didalam rasa adalah khayal
yang takkan pernah punah
dalam sebuah rindu dan benci
yang juga takkan dapat terpisah
aku bagai rasa dalam lemah
sesaat…yang mengikuti waktu
tanpa dapat berkata atau
mungkin memilihnya
didalam sebuah hasrat
dan didalam nyata
yang terkadang hanya antarku
kedalam lelahku
tuk bertanya mengapa ada benci
jika cinta itu indah tanpanya
dan berucap tentangnya
didalam waktu…
dan didalam sejati
yang takkan pernah ada didalam
dongeng indah yang tercipta
dalam mimpiku lalu

 Dikutip dari tulisan seorang sahabat : BlueVodca

Tigris

March 31, 2008

Sungai demam
Karang lekang
Pasir pecah
pelan-pelan

Gurun mengerang: Babilon!
Defile berjalan

Lalu Tuhan memberi mereka bumi
Tuhan memberi mereka nabi

Antara sejarah
dan sawah
hama
dan Hammurabi

Setelah itu, kita tak akan di sini

Kau dengarkah angin ngakak malam-malam
ketika bulan seperti
susu yang tertikam
ketika mereka memperkosa
Mesopotomia?

Seorang anak berlari, dan seperti dulu
ia pun mencari-cari
kemah di antara pohon-pohon tufah

Jangan menangis.

Belas adalah
Iblis karena Tuhan telah menitahkan airmata
jadi magma, bara yang diterbangkan bersama
belibis, burung-burung sungai yang akan
melempar pasukan revolusi
dengan besi dan api
"Ababil! Ababil!" mereka akan berteriak.
Bumi perang sabil.

Karena itulah, mullah, jubah ini
selalu kita cuci dalam darah di tebing
Tigris yang kalah
Dari Najaf ada gurun. Kita sebrangi
dengan geram dan racun. Dan tiba di Kerbala
akan kita temui pembunuhan
yang lebih purba.

(Ibuku. Seandainya kau tahu kami adalah anak-anakmu)

1986

(Goenawan muhamad) 

dikutip dari: Asmaradana, Grasindo, 1992

 

IP